Hadirmu dalam Mimpiku

Malam ini terasa ada yang berbeda. Perasaan hati gundah gulana. Mungkin diterpa rindu padanya.

Selepas pulang dari majelis sholawatan Habib Usman, sekitar pukul sebelas malam, dan memutar kembali isi pesan tausiah dari Cak Kus untuk menyimak kembali supaya tidak salah tangkap, sebab bahasan alhikam lumayan berat.

Kelalaian atau maksiat kepada Allah swt bisa terjadi manakala kita berkompromi dengan hawa nafsu. Padahal, hawa nafsu itu seharusnya diberi jarak, jangan diberikan kompromi lagi. Sebab jika berkompromi, maka nafsu yang akan menang.

Sebagai contoh, bila nafsu tidak mampu menggagalkan dengan cara yang ekstrim, maka nafsu mengarahkannya kepada hal-hal menurunkan kualitas dari ibadah tersebut. Shalat sunnah itu boleh dikerjakan duduk, tidak mesti berdiri, meski kita tidak dalam kondisi darurat sekalipun.

Jika kita sehat dan mampu berdiri, lalu memilih mengerjakannya dengan duduk, maka kita telah berkompromi dengan nafsu. Sekali berkompromi, maka nafsu akan menguasai diri kita. Cara menangkalnya, kerjakan semua ibadah meskipun kita belum merasakan manisnya beribadah. Meski masih terpaksa tetap lakukan terus.

Orang yang biasa, tak mampu berdalil dan tak bisa berceramah tapi bisa menang terhadap nafsunya, dan bisa mengendalikan nafsunya, jelas lebih baik. Dari pada orang alim, yang pintar berdalil dan mampu berceramah tetapi dikuasai oleh nafsunya. Demikian kata Cak Kus.

Eh tiba-tiba ada si dia. Aku dibuatnya tak fokus. Batinku sempat naik turun. Hingga kuputuskan untuk mengambil wudhu, menunaikan dua rakaat dan meminta petunjuk. Setelahnya kubaca beberapa ayat quran, dan membaringkan tubuh sambil membaca doa dan meminta untuk diberikan kekuatan supaya bisa bangun sebelum subuh.

Sambil kuputar ulang ceramah Cak Kus yang durasinya sekitar lima belasan menitan itu. Nama ia pun mulai memudar perlahan. Meski sering hadir kisah-kisah masa lalu dalam sebuah potongan. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri, aku masuk alam mimpi. Dalam mimpi tersebut, dia muncul. Sepertinya mimpi ini sama seperti mimpi yang dulu pernah kuimpikan.

Ah, hati. Begitu mudahnya kau berbolak balik. Atau ini hanyalah permainan nafsu yang harus selalu kucurigai dan kuwaspadai. Yaa muqalibal qulub, tsabit qalbii ala diinik...
___
Google Plus
    Komentar Lewat Blog
    Komentar Lewat Facebook

0 komentar:

Posting Komentar